Priyono Eko Sanyoto: Pergi Sunyi, Mewariskan Arah Besar dari Batam

BATAM-Ia pergi tanpa riuh, seperti caranya membangun selama ini, diam-diam, tapi berdampak panjang. Dari tangan dinginnya, sebuah kampus kecil di sudut Batam tumbuh menjadi institusi vokasi yang disegani, melahirkan ribuan lulusan siap kerja. Priyono Eko Sanyoto meninggalkan lebih dari sekadar kenangan, ia mewariskan arah.

DI TEPI jalan dekat Bundaran Bandara Hang Nadim, Nongsa, Sabtu (11/4) pagi, seorang pria ditemukan terbaring tak sadarkan diri. Di dekatnya, sebuah sepeda tampak disandarkan. Pakaian olahraga yang dikenakannya menandakan rutinitas yang biasa ia jalani: bersepeda.

Pria itu adalah Dr. Ir. Priyono Eko Sanyoto, Mantan Direktur Politeknik Negeri Batam, atau yang akrab disapa Pak Eko. Sosok yang selama ini lebih dikenal lewat karya daripada kata-kata.

Ia kemudian dilarikan ke RS Bhayangkara Polda Kepri. Namun takdir berkata lain. Pak Eko telah berpulang.

Di rumah sakit itu, suasana hening menyelimuti. Keluarga besar Politeknik Negeri Batam, dosen, tenaga kependidikan, hingga staf datang silih berganti. Bukan sekadar melepas seorang mantan direktur, tetapi seorang guru, orang tua, sekaligus perintis.

Jenazahnya sempat disalatkan di kampus yang ia bangun dengan sepenuh hati. Setelah itu, ia diterbangkan ke Bandung, Jawa Barat, untuk dimakamkan.

Dua dekade lebih, sejak 2001 hingga 2020, Pak Eko memimpin Politeknik Negeri Batam. Namun jauh sebelum itu, ia sudah memulai sesuatu yang kala itu bahkan belum diyakini banyak orang.

Awal 2000-an, Batam tengah tumbuh sebagai kota industri. Pabrik-pabrik berdiri, investasi mengalir. Namun satu hal masih timpang: tenaga terampil lokal.

Pendidikan vokasi belum menjadi pilihan utama. Banyak yang memandangnya sebelah mata. Di celah itulah Pak Eko melihat masa depan.

Lahir di Tanjungpandan, Belitung, 30 Juni 1957, ia menempuh pendidikan di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta. Lalu melanjutkan ke Teknik Mesin ITB angkatan 1977. Di kampus itu pula ia memulai karier sebagai dosen, sebelum melanjutkan studi pascasarjana di Prancis pada 1986.

Sumber: Jawa Pos

Polibatam #HumasKerjasamaPolibatam #PakEko #Inmemoriam