Pak Eko, Mengabdikan Hidupnya untuk Membangun Politeknik Negeri Batam dari Titik Nol

BATAM-Setelah selesai mengantarkan dan mengurus pemakaman beliau ke tempat peristirahatannya di Bandung Jawa Barat, hari ini kami mencoba menata hati untuk mengenang sosok yang bukan hanya membangun sebuah institusi, tetapi juga membentuk cara kami berpikir, melangkah, dan bermimpi, Dr. Ir. Priyono Eko Sanyoto, DEA.

Sejak tahun 2001, beliau telah mengabdikan hidupnya untuk membangun Politeknik Negeri Batam dari titik nol. Bukan perjalanan yang singkat, bukan pula jalan yang mudah. Namun dengan keyakinan dan keteguhan hati, beliau menapaki setiap prosesnya hingga Polibatam berdiri kokoh seperti hari ini, menjadi rumah bagi begitu banyak harapan dan masa depan.

Bagi kami, beliau bukan sekadar pimpinan. Beliau adalah orang tua yang membimbing dengan ketulusan, guru yang mengajarkan dengan kesabaran, sahabat diskusi yang selalu membuka cakrawala berpikir, dan sosok yang tak pernah lelah menjadi penyemangat di setiap langkah kami. Dalam setiap kegelisahan, selalu ada beliau yang menguatkan. Dalam setiap keraguan, selalu ada beliau yang meyakinkan.
Beliau adalah pribadi yang visioner, yang mampu melihat jauh melampaui zamannya. Cara berpikirnya yang out of the box, integritasnya yang kuat, dan semangatnya yang tak pernah padam untuk memajukan pendidikan vokasi di Indonesia telah menjadi fondasi yang tidak tergantikan. Apa yang beliau bangun bukan hanya sistem, tetapi juga nilai dan arah perjuangan.

Beliau selalu mengingatkan bahwa pendidikan harus relevan dengan kebutuhan industri. Dengan penuh keyakinan, beliau sering menyampaikan konsep “Plug and Play”, bahwa tidak boleh ada kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Maka beliau mendorong transformasi di berbagai aspek: tata kelola, kurikulum, metode pembelajaran, hingga pola pikir kami sebagai pendidik.

Langkah besar beliau mulai terlihat ketika pada tahun 2011, beliau mendorong Polibatam menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi semikonduktor di Indonesia. Melalui pembangunan Teaching Factory Manufaktur Elektronik (TFME) di bidang IC Packaging, PCB Manufacturing, dan PCB Assembly, beliau menanamkan fondasi penting bagi masa depan teknologi bangsa. Saat itu mungkin belum semua memahami arah beliau, namun hari ini kami menyadari…betapa jauhnya pandangan beliau ke depan.

Beliau juga menghadirkan terobosan melalui program magang dua semester, memberikan ruang lebih bagi mahasiswa untuk benar-benar tumbuh di lingkungan industri, sekaligus memberi kesempatan bagi industri untuk mengenali dan mempercayai kualitas lulusan Polibatam.

Tidak berhenti di sana, beliau menginisiasi berdirinya AMTO (Aircraft Maintenance Training Organization) di Polibatam, sebuah langkah besar yang membuka jalan bagi lahirnya tenaga profesional di bidang aviasi yang berstandar internasional. Melalui organisasi pelatihan resmi yang disahkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, serta pendirian program studi Teknik Perawatan Pesawat Udara, beliau menghadirkan peluang nyata bagi generasi muda untuk berkiprah di industri penerbangan. Ini bukan sekadar program, tetapi sebuah warisan visi, bahwa Indonesia harus mampu melahirkan tenaga profesional yang dipercaya di sektor strategis dunia.

Di sisi lain, dalam proses pembelajaran, beliau terus mendorong transformasi yang mendasar melalui penguatan Project-Based Learning (PBL) dan penerapan kerangka CDIO (Conceive–Design–Implement–Operate). Beliau ingin agar mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi mengalami, mencipta, dan memahami dunia nyata sejak dini. Bagi beliau, pendidikan adalah proses membentuk manusia yang siap menghadapi tantangan, bukan sekadar menguasai teori. Nilai inilah yang kini terus hidup dalam setiap ruang kelas dan setiap karya mahasiswa Polibatam.

Ketika banyak dari kami masih ragu, beliau sudah melangkah lebih jauh. Pada tahun 2019, beliau mendorong Polibatam untuk mengajukan akreditasi ABET dari Amerika. Tanpa pengalaman, tanpa peta jalan yang jelas, namun dengan keyakinan penuh bahwa kita harus belajar untuk bisa. Hingga akhirnya, Polibatam menjadi pelopor politeknik di Indonesia yang berhasil meraih akreditasi tersebut.

Tidak berhenti di sana, beliau juga menjadi penggagas dan pendiri Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) di Polibatam, menjadikannya satu-satunya politeknik di Indonesia yang memiliki program tersebut. Sebuah langkah berani yang menunjukkan bahwa batas hanya ada jika kita berhenti melangkah.

Namun …visi beliau tidak pernah berhenti pada Polibatam saja.
Beliau mendorong agar Indonesia memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan akreditasi internasional sendiri untuk Politeknik melalui IABEE, dengan memperluas cakupan ke Sydney Accord dan Dublin Accord. Tujuannya sederhana namun sangat dalam, agar pendidikan vokasi Indonesia diakui setara dengan dunia, bukan hanya secara administratif, tetapi secara kualitas dan substansi.
Beliau juga menjadi salah satu inisiator lahirnya ITERATI (The Institution of Engineering Technician and Technologist Indonesia), membuka jalan agar lulusan vokasi Indonesia, baik engineering technician (lulusan D3) maupun engineering technologist (lulusan sarjana terapan), dapat memperoleh pengakuan global. Dengan mengadopsi standar International Engineering Alliance (IEA) serta mengarah pada keanggotaan dalam Agreement for Engineering Technician (AIET) dan International Engineering Technologist Agreement (IETA), beliau memperjuangkan agar profesional Indonesia memiliki kesempatan untuk berkiprah dan memiliki mobilitas di tingkat internasional.

Begitu banyak ide besar yang telah beliau tanamkan. Begitu banyak mimpi yang telah beliau mulai. Dan hari ini, kami menyadari… sudah banyak yang teralisasi serta berkembang tetapi masih banyak juga yang belum selesai, karena begitu banyak ide-ide beliau.
Sejujurnya, kami belum siap kehilangan beliau.

Kami kehilangan seorang guru, seorang inspirator, seorang sahabat diskusi, dan sosok yang selalu menjadi tempat kami kembali ketika lelah. Rasanya masih ingin mendengar arahan beliau, masih ingin berdiskusi panjang, masih ingin melihat keyakinan itu di wajah beliau.

Namun kami tahu… beliau tidak ingin kami berhenti.
Kami akan melanjutkan langkah ini. Kami akan menjaga semangat itu. Kami akan menjadikan inovasi sebagai napas perjuangan kami sebagaimana yang selalu beliau ajarkan.

Selamat jalan, Sang Panutan. Terima kasih atas setiap ilmu, setiap kepercayaan, dan setiap mimpi yang telah engkau titipkan.
Amal jariyahmu akan terus mengalir, dalam setiap langkah kami dan ribuan mahasiswa dan lulusan vokasi di Indonesia, dalam setiap karya yang lahir dari semangatmu. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Engkau telah pergi, namun semangatmu akan tetap hidup di hati kami, di langkah kami, dan dalam setiap perjuangan memajukan pendidikan tinggi vokasi di Indonesia.

Batam, 14 April 2026

Dari kami yang akan selalu merindukanmu

Penulis:
Ahmad Riyad Firdaus

Polibatam#HumasKerjasamaPolibatam#PakEko#Inmemoriam