Momen yang Paling Emosional dalam Ingatan dan Pengalaman Tentang Leadership Sosok Pak Eko
BATAM-Tulisan ini mungkin tidak mewakili semua suara dan Chapter Penggabungan Polibatam ke UMRAH ini diambil karena menjadi momen yang paling emosional dalam ingatan dan pengalaman tentang Leadership Bpk. Dr. Ir. Priyono Eko Sanyoto.
Bisa jadi, ada yang mengenal beliau dengan cara yang berbeda, menyimpan kenangan yang lain, dengan makna yang sama dalamnya dan justru di situlah kekuatan sosok beliau, hidup dalam banyak cerita, di banyak hati. Semoga akan ada lebih banyak yang menuliskan dan berbagi, agar kita tidak hanya mengenang, tetapi juga saling menguatkan melalui jejak yang beliau tinggalkan.
“Di Antara Riuh Itu, Kami Baru Mengerti Siapa yang Sedang Menjaga”
Tahun 2006 bukan sekadar angka dalam perjalanan waktu. Ia adalah fase yang tanpa kami sadari saat itu, sedang membentuk cara kami melihat hidup. Kami datang sebagai mahasiswa baru angkatan ke-7, dengan langkah yang belum mantap, dengan pikiran yang masih sederhana, namun dengan keyakinan bahwa kami sedang memilih jalan untuk masa depan.
Kami menjadi generasi pertama yang di Ospek di kampus baru Simpang Franky, Batam Centre, setelah berpindah dari gedung lama di Pertamina Tongkang. Saat itu, kampus belum ramai, belum mapan, bahkan mungkin belum sepenuhnya siap. Tapi justru di situlah kami merasa bahwa ini bukan sekadar tempat belajar, ini adalah sesuatu yang sedang diperjuangkan untuk tumbuh.
Namun belum lama kami merasa mulai “punya tempat”, Tahun 2007 datang satu gelombang yang mengguncang hampir semua yang kami yakini. Kabar tentang merger itu datang, Politeknik Batam, yang saat itu masih berdiri sebagai kampus swasta, digabung dengan STISIPOL Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang menjadi Universitas Maritim Raja Ali Haji. Secara abakadabra berubah menjadi bagian jenjang D3 pada Fakultas Teknik Umrah.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanya keputusan struktural, bagian dari peta besar pendidikan. Tapi bagi kami yang ada di dalamnya, itu terasa seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kami pahami sepenuhnya. Ada rasa gamang yang sulit dijelaskan seperti tentang identitas yang tiba-tiba terasa kabur, tentang masa depan yang mendadak penuh tanda tanya, tentang arah yang seperti ditarik ke tempat yang belum kami kenal.
Hari-hari setelah itu tidak lagi sama. Kampus yang tadinya sunyi berubah menjadi ruang penuh suara. Diskusi tidak lagi sekadar akademik, tapi menjadi ruang untuk mempertanyakan, memperjuangkan, bahkan meluapkan keresahan. Di kelas, di lorong, di kantin dan di semua tempat seperti menjadi saksi bahwa kami sedang tidak baik-baik saja.
Suara mulai meninggi, emosi kadang mendahului logika, dan sebagian dari kami memilih berdiri di depan, mencoba menjadi suara dari kegelisahan yang tidak lagi bisa dipendam. Itu bukan sekadar dinamika mahasiswa tapi itu adalah fase di mana kami merasa sedang mempertahankan sesuatu yang kami anggap penting, meski mungkin kami sendiri belum sepenuhnya mengerti apa itu.
Dan di tengah riuh yang hampir tak terkendali itu, ada satu hal yang hari ini justru terasa paling kuat dalam ingatan kami: Ketenangan Seorang Pemimpin. Pak Eko tidak ikut meninggikan suara. Tidak membalas tekanan dengan tekanan. Tidak pula menghilang di balik situasi yang sulit. Beliau tetap ada, dengan cara yang mungkin saat itu tidak kami pahami. Ia mendengar, dengan kesabaran yang jarang kami miliki saat itu. Ia menjawab, tanpa tergesa dan tanpa defensif. Dan yang paling penting, ia tetap berdiri di posisinya untuk menjaga sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar meredam gejolak sesaat.
Saat kami sibuk merasa paling benar, beliau sedang memikul keputusan yang tidak sederhana. Saat kami menuntut kejelasan dengan cepat, beliau sedang memastikan bahwa apa yang diputuskan tidak akan merusak masa depan. Saat kami melihat dari sudut pandang kami sebagai mahasiswa, beliau melihat dari ketinggian yang mungkin saat itu belum mampu kami jangkau. Dan mungkin itulah mengapa, di masa itu, tidak semua dari kami bisa langsung memahami beliau. Bahkan mungkin, sebagian dari kami pernah merasa berhadapan. Namun waktu selalu punya cara untuk membuka apa yang dulu tertutup oleh ego dan emosi.
Hari ini, ketika kami melihat ke belakang, yang terasa bukan lagi riuhnya perdebatan itu. Bukan lagi siapa yang paling lantang, atau siapa yang paling keras bersuara. Yang tersisa justru satu hal yang sederhana, tapi dalam yaitu Rasa Hormat.
Karena kami akhirnya mengerti, bahwa tidak semua orang mampu tetap tenang saat diuji dari berbagai arah. Tidak semua pemimpin berani memilih jalan yang sunyi yaitu jalan yang mungkin tidak populer, tapi benar dan an tidak semua orang sanggup menjaga arah, ketika semua hal di sekitarnya mencoba menarik ke arah yang berbeda. Yang pada akhirnya pada Tahun 2009 mimpi besar The Better Futere itu kembali berdiri kembali dan terus tumbuh menjadi Politeknik Negeri Batam sekarang ini.

Dan ketika kabar kepergian itu datang, rasanya bukan hanya kehilangan sosok. Tapi seperti kehilangan satu bagian dari masa yang pernah membentuk kami. Lorong-lorong yang dulu terasa lengang, diskusi yang tak pernah benar-benar selesai, kegelisahan yang dulu terasa begitu besar dan semuanya kembali hadir, seakan mengingatkan bahwa kami pernah ada di masa itu. Dan di setiap ingatan itu, selalu ada satu hal yang sama: Pak Eko selalu ada. Tidak selalu di depan. Tidak selalu terlihat. Tapi selalu menjaga arah.
Selamat jalan, Pak Eko.
Kami percaya, tidak ada satu pun kebaikan yang hilang. Setiap niat yang Bapak jaga dalam diam, setiap keputusan yang mungkin dulu tidak kami pahami, kini menjadi bagian dari jejak yang terus hidup di dalam diri kami. Dalam cara kami berpikir, dalam cara kami bersikap, bahkan dalam cara kami mengambil keputusan dalam hidup.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal sebagai kebaikan yang tak terputus, melapangkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan menjadikan setiap ilmu serta jejak yang Bapak tinggalkan sebagai cahaya yang terus menyala.
Bagi kami yang pernah tumbuh di masa itu, semoga kami diberi kemampuan untuk melanjutkan apa yang pernah Bapak jaga yaitu menjadi manusia yang bermanfaat, yang bekerja tidak untuk dilihat, tetapi untuk memberi arti. Karena pada akhirnya, yang benar-benar abadi bukanlah siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang diam-diam menjaga, lalu meninggalkan kebaikan yang terus hidup setelah ia tiada.
Penulis:
Andres Putranta Sitepu
#Polibatam#HumasKerjasamaPolibatam#PakEko#Inmemoriam

